Jumat, 30 Desember 2011

AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG (Tere-Liye)

Beberapa minggu terakhir ini lagi hobi baca buku karangan Tere-Liye. Bermula waktu mudik Lebaran kemaren, kata suamiku bagus2 tuh bukunya. Akhirnya searching2 di toko buku langganan di Bandung. Buku pertama tere yang aku baca judulnya Hafalan Shalat Delisa (buku ini dah lama sih, terbit jaman kuliah dulu, klo ga salah 2004 apa 2005, tapi belum sempet baca waktu itu). Dulu cover bukunya warna ijo, sekarang covernya putih, bergambar kupu2, lucu deh....Trus buku yang kedua judulnya Bidadari-bidadari Surga. Setelah khatam baca dua buku ini mulai kecanduan deh baca buku Tere yang lain. Berlanjut ke Sang Penandai, rembulan Tenggelam di Wajahmu, terakhir Ayahku (bukan) Pembohong. Berhubung masih hangat diingatan, mau kasih resensi tentang buku yang terakhir di baca niy....yang sebelum2nya resensinya kapan2 aja ya....klo ada waktu lagi ;)
Buku setebal 304 halaman ini bercerita tentang kisah seorang anak bernama Dam yang dibesarkan dengan cerita-cerita dan dongeng-dongeng luar biasa dari ayahnya. Mulai dari kisah Sang Kapten (pemain bola legendaris), apel emas lembah Bukhara, Suku penguasa angin, si Raja Tidur, dsb.
Cerita-cerita ayahnya tersebut telah membentuk pribadi Dam berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Inti dari cerita -cerita ayah Dam adalah kesederhanaan hidup dan hakikat mencapai kebahagiaan sejati.

Ada beberapa paragraf bab terakhir buku ini yang sangat kusuka.
Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekadar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati?

Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya, rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

Banyak kisah-kisah yang mengharukan dalam buku ini. Ga nyesel deh bacanya,,,,banyak hikmah yang membuat kita tersadarkan........

0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 30 Desember 2011

AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG (Tere-Liye)

Diposting oleh Intan di 19.22
Beberapa minggu terakhir ini lagi hobi baca buku karangan Tere-Liye. Bermula waktu mudik Lebaran kemaren, kata suamiku bagus2 tuh bukunya. Akhirnya searching2 di toko buku langganan di Bandung. Buku pertama tere yang aku baca judulnya Hafalan Shalat Delisa (buku ini dah lama sih, terbit jaman kuliah dulu, klo ga salah 2004 apa 2005, tapi belum sempet baca waktu itu). Dulu cover bukunya warna ijo, sekarang covernya putih, bergambar kupu2, lucu deh....Trus buku yang kedua judulnya Bidadari-bidadari Surga. Setelah khatam baca dua buku ini mulai kecanduan deh baca buku Tere yang lain. Berlanjut ke Sang Penandai, rembulan Tenggelam di Wajahmu, terakhir Ayahku (bukan) Pembohong. Berhubung masih hangat diingatan, mau kasih resensi tentang buku yang terakhir di baca niy....yang sebelum2nya resensinya kapan2 aja ya....klo ada waktu lagi ;)
Buku setebal 304 halaman ini bercerita tentang kisah seorang anak bernama Dam yang dibesarkan dengan cerita-cerita dan dongeng-dongeng luar biasa dari ayahnya. Mulai dari kisah Sang Kapten (pemain bola legendaris), apel emas lembah Bukhara, Suku penguasa angin, si Raja Tidur, dsb.
Cerita-cerita ayahnya tersebut telah membentuk pribadi Dam berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Inti dari cerita -cerita ayah Dam adalah kesederhanaan hidup dan hakikat mencapai kebahagiaan sejati.

Ada beberapa paragraf bab terakhir buku ini yang sangat kusuka.
Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekadar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati?

Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya, rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

Banyak kisah-kisah yang mengharukan dalam buku ini. Ga nyesel deh bacanya,,,,banyak hikmah yang membuat kita tersadarkan........

0 komentar on "AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG (Tere-Liye)"

Posting Komentar